Jumat, 15 Januari 2016

THE DEMON HUNTER

Liana berlari menuju lantai dasar dari sebuah gedung tua yang sudah bobrok. Jantungnya berdegup kencang dan napasnya terengah-engah. Dia terpisah dari teman-temannya. Sekarang hal yang bisa ia lakukan hanyalah berlindung dan menunggu hingga temannya menemukannya.

“Haa... Ha.. Haa...” Liana berhenti berlari dan menarik napasnya dalam-dalam. Cukup lama ia berlari dari lantai 4 sampai lantai dasar.

“Haa... Haa... Setidaknya demon itu tidak mengejarku lagi-“

DUM! DUM!

Jantung Liana kembali berdetak dengan kencang. Baru saja ia beristirahat, demon itu kembali mengejarnya.

Liana berlari lagi. Lorong demi lorong ia lewati untuk mencari perlindungan dan berhenti ketika jalan di depannya buntu.

“Buntu?! Sial!” Liana berpikir untuk berlari mencari jalan lain, tapi tentu saja itu hal yang gila karena demon itu tepat berada di belakangnya sekarang.

Liana memutarkan badannya dan mendongak ke atas. Wajah demon yang mengerikan itu menatap Liana dengan tatapan lapar akan daging segar manusia. Liana menggenggam erat pisau-pisau disetiap jari-jarinya.

‘Aku bisa melakukannya. Aku bisa melawan demon ini. Aku bisa. Ya, aku bisa...’

“GRAAAAWR!”

Demon itu mengangkat cakarnya dan mencakar Liana. Dengan sigap, Liana menghindar dari serangan Sang demon dan membiarkan cakar besarnya itu menghantam dinding di belakang Liana.

BRAK!! Dinding tersebut hancur seketika dalam sekali pukulan saja.

Liana melemparkan pisau-pisuanya ke lengan besar Sang demon. Demon tersebut langsung meringis kesakitan ketika benda-benda tajam itu menusuk kulit bersisik miliknya. Liana mengambil kesempatan untuk kabur, tetapi kembali dikejar oleh makhluk aneh itu.

Entah memang keberuntungannya yang sedang buruk, Liana tersandung kakinya sendiri dan terjatuh.

Bruk!

“Ow! Sakit...” Lutut kanan Liana berdarah, dan demon tadi berjalan dekat, mendekat, dan semakin dekat ke arahnya.

Liana memejamkan matanya, menutup manik sapphire indahnya dari dunia. Jantungnya berdegup kencang karena takut. Kedua telapak tangannya terasa berkeringat dan ia panik bukan main.

“RAAAWR!!”

SRAAAAT!

Liana membuka matanya perlahan dan melihat laki-laki yang berlumuran darah demon berdiri di depannya.

“Kurosuke-senpai?!”

“Tch. Bisakah kau berguna sedikit saja?” Kurosuke membantu Liana berdiri dan menuntunnya berjalan.

“Terima kasih, senpai...” Liana berterima kasih pada Kurosuke walaupun ia tahu bahwa ia tidak akan mendapatkan jawaban apapun darinya. Sama halnya seperti pertama kali mereka bertemu.

FLASHBACK

“Ya ampun, sudah malam sekali. Harus segera pulang, nih!” Liana mengecek hand phone-nya yang menunjukkan pukul 11 malam. Ia pun mempercepat langkahnya agar 
sampai di rumahnya lebih cepat.

Ia baru saja pulang dari rumah temannya yang mengadakan acara tahun baru di rumahnya. Awalnya Liana menolak, tapi teman-temannya memaksanya untuk ikut. Karena tidak enak hati, akhirnya Liana menerima tawaran mereka. 

Derap langkah Liana terdengar jelas ketika ia berjalan. Ia berdehem mengikuti irama lagu yang melantun dari ear phone miliknya.

“Hem hem hem~ na na na na na na~ na na-“

Liana berhenti berdehem ketika bayangan besar menyeliputi dirinya. Makhluk aneh bertubuh besar dan bersayap lebar terbang di atasnya sambil menunjukkan gigi-giginya yang besar dan siap menerkam Liana.

Bola mata Liana membesar. Ia segera menggerakkan kedua kakinya untuk berlari. Makhluk itu berteriak kencang dan datanglah dua wujud yang serupa dengannya.
Liana menambah kecepatan berlarinya. Beginikah rasanya diburu? Sekarang posisinya sama seperti binatang yang dikejar oleh para pemburu yang ingin membunuhnya untuk dijadikan makanan agar bisa bertahan hidup.

Salah satu dari ketiga makhluk tersebut berhasil mendekati Liana dan memegang kakinya. Cakarnya yang tajam menusuk kaki Liana, membuat darah segar menetes.

Liana terjatuh. Ia dikerumuni oleh monster yang tergila-gila akan daging manusia yang segar. Sekujur tubuhnya terasa kaku. Apakah ia... akan berakhir disini...? Ah, kenapa tiba-tiba pandangannya menggelap?

SRAT!

CRAAAS!!

Liana melihat sosok laki-laki berambut hitam dengan mata berwarna semerah darah berdiri di depannya. Tangan kanannya memegang katana yang siap mengambil nyawa siapapun, kapanpun.

“Ah-“

“Tutup matamu,”

“Eh?”

“Cepat.

Liana pun menutup matanya. Terdengar suara sayatan pedang dan teriakan melengking yang dapat merusak telinga orang yang mendengar. Sekarang ia mengerti mengapa ia disuruh untuk menutup matanya. Cukup mendengarnya saja sudah berhasil membuatnya merinding. Bagaimana jika ia melihatnya langsung dengan mata kepalanya sendiri?

“Buka matamu,” Perintah laki-laki tersebut.

Liana membuka matanya. Tubuh ketiga makhluk itu terpotong menjadi beberapa bagian dan bersimbah darah. Ia mendongak dan melihat ada darah di tubuh lelaki itu. Ia menunduk. Dan melihat darah lagi di sekujur jalan itu. Mau melihat ke arah manapun selalu ada darah.

“Ah... Emm...” Liana mendekati laki-laki itu.

“Pulang.

“Ta-tapi-“

“Pulang.

Kata-kata yang dilontarkan dari mulut lelaki tersebut membuat Liana sedikit takut. Ia pun mematuhi apa yang dikatakannya.

“Ba-baik. Maaf kalau aku merepotkan. Sampai jumpa,” Liana membungkukkan badannya dan berlari menjauh. Sesekali ia melirik ke belakang untuk melihat apakah lelaki itu sudah pergi atau belum.

Sampai di rumah, Liana langsung mengganti pakaiannya, menyikat gigi, dan tidur. Ia berharap bahwa apa yang terjadi tadi hanyalah sebuah mimpi buruk.

@@@@@

Lelaki berpakaian serba hitam itu melihat Liana dari kejauhan. Lama-kelamaan, perempuan itu semakin memudar dari pandangannya dan menghilang. Ia kembali memasukkan pedangnya kedalam sarung pedangnya dan berjalan mengelilingi kota.

‘One night and one more time, Thanks for the memories, Thanks for the memories...’

Terdengar sebuah lagu dari hand phone laki-laki itu. Ia mengambil hand phone-nya dan menekan tombol hijau. Terdengar suara perempuan dari hand phone miliknya.

“Apa, Juno?”Tanya lelaki itu dengan nada yang sedikit sarkastik.

“Hei, aku punya berita bagus. Ada demon besar muncul di Jalan Yami. Bisakah kau segera kesana?”

“... Aku akan segera kesana,” Laki-laki itu langsung mematikan hand phone-nya dan melompati gedung demi gedung, dibantu oleh cahaya bulan yang menerangi setiap jalannya.
@@@@@
“Aku berangkat!”

Liana mengambil sepedanya dan menggowesnya menuju sekolah. Ia sudah melupakan kejadian kemarin malam yang lebih menyeramkan daripada mimpi buruk yang pernah ia rasakan.

Di sekolah...

“Pagi!”

“Pagi”

Murid saling menyapa murid yang lainnya. Beberapa salju terjatuh dari ujung ranting dan mengotori tanah dengan warna putih bersih. Liana menaruh sepedanya di parkiran sepeda dan berjalan dengan senyuman yang melekat di wajahnya.

“Pagi, Liana!”

“Pagi!”

Beberapa murid yang sekelas dengannya menyapa Liana, yang kebetulan lewat di depan teman-temannya. Liana menyapa balik teman-temannya, dan tak sengaja menabrak seseorang.

BRUK!

“Ah, Maaf!” Liana memegang wajahnya yang sakit karena terhantam oleh tubuh murid yang tidak sengaja tertabrak olehnya.

‘Tunggu. Aura ini... sepertinya aku pernah merasakannya... A-ah! Aura ini... Jangan bilang...!’

Liana mengangkat kepalanya. Matanya membesar ketika melihat wajah murid yang ia tabrak tadi.

“Ka-kau..!”

Jantung Liana berdegup terus-menerus. Ingatannya tentang kemarin malam kembali lagi. Makhluk aneh bersayap, laki-laki bermata merah darah yang menyelamatkan nyawanya, darah berceceran dimana-mana... Ya ampun, Liana sungguh tidak ingin mengingat hal itu lagi!

“... Apa?” Murid laki-laki itu bertanya balik pada Liana yang seluruh badannya 
langsung lemas.

“Ini mimpi... kan...?” Badan Liana melemas dan terjatuh. Murid laki-laki itu segera menangkap tubuh Liana dan membawanya ke ruang kesehatan.

‘Tuhan, kalau ini memang benar-benar nyata, kalau makhluk aneh itu benar-benar nyata, tolonglah aku... lindungilah aku... Kumohon...’

“... Na... Lia... Na...” Seseorang memanggil namanya berulang-ulang.

“Lia... Na..! Liana!”

Liana langsung membuka matanya. Yang pertama kali ia lihat ketika bangun adalah wajah yang sangat familiar baginya.

“Sa... ki?”

“Liana! Kau tidak apa-apa?! Aku khawatir sekali ketika tahu kau pingsan!”

“Aku tak apa, Saki. Terima kasih atas perhatiannya,”Liana mengambil posisi duduk. Kepalanya terasa sedikit nyeri.Mungkin kepalanya sempat terhantam lantai ketika jatuh tadi.

“Untungnya senpai yang disana menolongmu sebelum kepalamu menyentuh lantai,” Kata Saki yang seperti membaca pikiran Liana.

“Hah? Senpai ? Senpai yang mana...?” Liana memiringkan kepalanya, tanda bahwa ia tidak mengerti apa yang dikatakan Saki.

“Kau sudah bangun?”

Liana menoleh ke arah sumber suara. Lagi-lagi Liana merasa bahwa jantungnya serasa akan copot karena saking takutnya.

“Ini senpai yang menolongmu tadi, Nishimura Kurosuke-senpai”

SIIIING....

Rasanya Liana ingin pingsan untuk kedua kalinya.
Kurosuke bersandar di dinding sambil melipat kedua tangannya. Mata merah darahnya bertemu dengan sapphire milik Liana. Liana langsung mengalihkan pandangan. Dia tidak kuat bertatapan mata dengan Kurosuke setelah apa yang telah terjadi kemarin.

BRAAAK!

“Kurosuke, kau baik-baik saja?! Kudengar tadi kau pingsan-AUW!” Murid laki-laki yang tiba-tiba masuk ke ruang kesehatan itu disambut dengan pukulan di wajah oleh Kurosuke.

“Dengarlah rumor dengan baik,” Kurosuke kembali melipat tangannya dan menatap langit-langit ruang kesehatan.

“Eh? Jadi Kurosuke tidak pingsan? Lantas siapa?”

“Emm... aku, senpai...” Liana mengangkat tangannya. Murid laki-laki berambut silver itu menengok ke arah Liana, bengong, lalu menghampiri Liana.

“Kamu baik-baik saja, kan?! Apa ada yang sakit?! Kepalamu sakit?!”

“Emm... Aku tidak apa-apa, Tsukino-senpai...” Kata Liana yang senyam-senyum saja.
Yup. Murid berambut silver tersebut bernama Tsukino Haruki, kapten dari tim taekwondo yang sangat tampan dan terkenal di sekolah. Dia selalu saja menjadi incaran para perempuan, baik di dalam maupun di luar sekolah.

“Syukurlah...”Haruki menghela napas lega.Entah memang kebal atau tidak, Liana sepertinya satu-satunya murid perempuan di sekolah ini yang tidak tertarik oleh ketampanan Haruki.

“Halo semuanya! Aku dataaang!” Seorang murid perempuan memasuki ruang kesehatan dengan seenaknya tanpa mengucapkan ‘permisi’ terlebih dahulu, sama dengan yang dilakukan Haruki tadi.

“... Juno,” Kurosuke menyebut nama murid itu.

“Kudengar Haruki dan Kurosuke di sini, jadi langsung saja aku menuju ke sini!” Juno berjalan menuju tempat tidur kosong dan duduk di atasnya dan menaruh kaki kanannya di atas kaki kirinya. Senyumnya tidak hilang sejak ia masuk ke ruang kesehatan.

“Jadiii,”

Juno menengok ke arah Liana.

“Kau murid yang pingsan ya? Bagaimana keadaanmu? Sudah lebih baik?”

“Iya, sudah lebih baik, senpai”

“Kalau begitu,”Ekspresi Juno yang awalnya ceria langsung berubah menjadi serius.

“Kau, Liana Fleur, maukah kau bergabung dengan kami?”

SIIIIING... lagi-lagi ruangan itu sunyi senyap.

“... Hah?Maksud senpai apa?” Liana kembali memiringkan kepalanya.

Juno pun mengulang kembali kata-katanya, “Maukah kau bergabung dengan kami, Demon Hunter?”

“Demon Hunter? Apa itu?” Liana benar-benar bingung dengan apa yang terjadi sekarang.

Haruki berdiri di depan tempat tidur yang ditempati Liana, “Demon Hunter adalah klub yang didirikan untuk memusnahkan para demon yang berkeliaran pada malam hari. Klub ini sebenarnya tidak resmi, tapi demi menyelamatkan manusia, kami terpaksa mendirikannya.

Liana hanya mengangguk-anggukkan kepalanya saja walaupun sebenarnya ia tidak mengerti.

“Tunggu. ‘kalian’ ingin aku untuk bergabung dengan Demon Hunter? Berarti Saki...” Liana menoleh ke arah temannya yang menunduk.

“Iya, sebenarnya aku salah satu anggota Demon Hunter. Maaf aku tidak memberitahumu.

Liana semakin bingung. Pertama, ia bertemu dengan demon lalu Kurosuke datang menyelamatkannya. Kedua, Ia kaget ketika tahu bahwa Kurosuke itu adalah kakak kelasnya. Ketiga, club yang bernama Demon Hunter, yang diketuai oleh Himura Juno, mengajaknya untuk bergabung. Keempat, yang membuatnya lebih terkejut lagi, ternyata selama ini temannya adalah anggota Demon Hunter. Dan yang membuatnya bingung lagi, apakah demon benar-benar ada? Bukannya itu hanya mahkluk iblis yang dianggap sebagai mitos?

“Bolehkah aku bertanya, Juno-senpai?”

“Tentu saja boleh, Liana-chan,”

“Kenapa kau... memilihku sebagai anggota Demon Hunter? Bukannya ada banyak murid yang lebih pantas daripada aku?”

Juno tersenyum. Dia tahu bahwa Liana akan melontarkan pertanyaan seperti itu.

“Kau punya potensi,” Jawab Juno.

“Potensi?”

“Yup. Potensi untuk mengalahkan demon-demon yang berkeliaran di luar sana.

“Bagaimana kau bisa membedakan mana yang berpotensi dengan yang tidak?”

“Ra-ha-si-a”Juno menaruh telunjuknya di bibirnya.

“Jadi? Maukah kau bergabung?” Tanya Haruki dengan wajah memelas.

“Hem... Entahlah, aku pikir aku harus menolak ajakan kalian...”

Para anggota Demon Hunter itu pun menundukkan kepalanya.

“Tapi, karena sepertinya klub ini menarik-”

Mereka langsung mengangkat kepala mereka.

“-Aku mau bergabung!”Kata Liana sambil menyengir.

“Benarkah?!”Haruki memegang kedua pundak Liana dan menggoyangkan tubuh Liana.

“Iya!”

“Syukurlah, kupikir kau akan berkata tidak! Kau menakut-makutiku saja!” Saki mengacak-acak sedikit rambut Liana. Yang diacak-acak rambutnya hanya tertawa saja.

“Ayo, Kurosuke! Kau juga harus ikut senang!” Haruki menarik Kurosuke lebih dekat ke yang lain.

Juno menundukkan kepalanya dan tersenyum bahagia. Dia pikir mendapatkan orang dengan potensi yang hebat itu akan terasa sangat sulit. Tapi, malah sebaliknya.
Hari itu, Demon Hunter akhirnya mendapat anggota baru. Setelah sekian lama mereka mencari orang dengan potensi untuk mengalahkan demon. Liana Fleur, orang yang terpilih menjadi salah satu anggota Demon Hunter.

FLASHBACK END

Kurosuke menuntun Liana berjalan keluar dari gedung tua itu. Cukup sulit untuk menemukan jalannya tapi setidaknya mereka berhasil keluar.

“Kurosuke! Liana!” teriak Haruki dari kejauhan.

“Untung saja kalian berhasil keluar... Ah! Liana! Lututmu berdarah!” Kata Saki yang melihat lutut kanan Liana yang bercampur dengan warna merah darah.

“Tadi aku terjatuh saja, kok.

“Kalau begitu, kita harus menyembuhkan luka-luka kita sebelum infeksi! Ayo lekas ke markas!” Juno berjalan paling depan, disusul oleh Saki dan Haruki.

“Kau bisa berjalan?” Tanya Kurosuke pada Liana.

“Ya... kuharap bisa...”

“Pelan-pelan saja, tak usah terburu-buru,” Kurosuke menuntun Liana berjalan. Walaupun sikapnya dingin, tetapi Kurosuke sebenarnya baik.

“Ya...” Liana mengangguk dan tersenyum. Ternyata bergabung dengan Demon Hunter bukanlah hal yang buruk.
@@@@@

Tidak ada komentar:

Posting Komentar